Adab Mendengarkan Pembicaraan

Adab Mendengarkan Pembicaraan

Image

Wahai saudaraku, beradablah ketika mendengarkan pembicaraan, janganlah sekali-kali kamu hentikan atau sangkal ucapan seseorang di depan khalayak ramai. Perbuatan itu sangat buruk. Jika ucapan temanmu salah, dan kesalahannya tidak membahayakan, maka maafkanlah. Jangan kamu tunjukkan kesalahannya, tunggulah hingga tinggal kalian berdua. Jika kesalahannya adalah kesalahan yang wajib dikoreksi dihadapan orang banyak agar tidak mempengaruhi pikiran mereka, maka lakukanlah dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang, jangan dengan kasar. Jika teguran itu membuatnya malu, maka itu adalah salahnya sendiri. Dia yang berbuat (maka dia yang harus berani menanggung akibatnya).

Jika kamu seorang pemimpin dan pemuka masyarakat, bicaralah dengan lembut, tenangkanlah nafsumu, jauhilah sikap ujub dan takabbur (sombong). Sebab sikap itu akan memadamkan cahaya dan kilau ilmumu. Jika kamu ingin selalu senang, memperoleh pujian dan pahala, maka jangan debat lawan bicaramu, dan jangan ungkit kesalahan-kesalahan kaum sholihin. Jika ucapanmu disangkal, tetaplah berteguh hati, jangan mengeluh. Jika kamu temui hal-hal yang tidak kamu sukai, maka tanggunglah perasaan itu dan jangan membalas, karena yang demikian adalah sikap orang-orang yang teguh dan suka beriyadhoh; sikap kaum sholihin yang kuat. Betapa banyak ucapan yang jawabannya adalah diam. Seorang penyair berkata:

Tidak semua ucapan perlu jawaban,

Tuk ucapan yang kau benci, diamlah jawabannya

Dengarkanlah suara kaum lemah, tenangkanlah orang-orang yang ketakutan, perhatikanlah ucapan orang-orang yang teraniaya, perlakukanlah mereka semua dengan santun dan ramah. Syukurilah nikmat keamanan dan ketenangan, sebab dalam salah satu kitab yang diturunkan kepada umat-umat terdahulu, Allah SWT berfirman, “Dengarkanlah pengemis sampai ia selesei berbicara, kemudian tolaklah permintaannya dengan lembut. Kepada anak yatim, bersikaplah seperti seorang ayah yang penuh kasih sayang. Dan kepada semua orang yang teraniaya jadilah penolongnya. Niscaya kamu akan menjadi kholifah Allah di bumi-Nya.”

Dalam Taurot juga dikatakan bahwa Allah SWT. Berfirman kepada Bani Isroil, “Wahai penghuni langit, diamlah, Aku akan berbicara. Wahai penghuni bumi, dengarkanlah apa yang hendak Kukatakan. Taatlah kepada-Ku dan jadilah orang yang benar, karena aku adalah Allah Yang Maha Adil, Maha Benar, Maha Lurus dan Amanah. Aku tidak pernah berbuat dzolim. Janganlah kalian menindas orang-orang asing, bukankah kalian telah cukup lama terasing dinegeri Mesir? Janganlah kalian mendzolimi para janda dan anak yatim. Jika kalian  mendzolimi mereka, dan mereka mengadu kepada-Ku, maka sesungguhnya Aku Maha Mendengar jeritan mereka. Aku akan murka, dan kalian akan Kujadikan janda, dan anak-anak kalian akan Kujadikan yatim. Janganlah kalian menerima suap, karena suap akan membutakan pandangan dan menghilangkan keadilan. Jika kalian melihat keledai orang yang membenci kalian terduduk karena kelebihan muatan, maka kalian wajib membantunya menurunkan muatan. Jika wasiat-Ku ini kalian laksanakan, maka Aku akan memusuhi semua yang memusuhi kalian, dan membenci semua yang membenci kalian.”

Jika kamu mendengar seseorang menyampaikan berita yang telah kamu ketahui, janganlah kamu sangkal, karena sikap seperti ini menunjukkan kerendahan nafsu. Namun dengarkanlah apa yang ia ucapkan, seakan-akan kamu belum pernah mendengarnya. Inilah sikap orang yang mulia dan teguh. Apalagi jika yang berbicara adalah seorang yang perlu diistimewakan dihadapan orang banyak. Atau dari seseorang yang sedang mengharapkan sesuatu dari penguasa, maka memotong dan mendebat ucapannya adalah tercela. Alangkah indahnya ucapan penyair berikut:

Bila bicara tak pernah berkata keji,

tidak berdebat dengan yang suka berdebat

Siapa pun bertemu seorang dari mereka ‘kan berkata

“Ku dapati pemimpin mereka

Bak bintang penunjuk jalan.”

Ketahuilah pendengar adalah mitra berbicara. Karena itu, jangan mendengarkan ucapan yang buruk: ghibah(gosip), namimah(mengadu domba), dan pembicaraan lain yang tercela. Tirulah ucapan penyair berikut:

Jagalah pendengaranmu dari ucapan buruk

Sebagaimana kau jaga lisan dari mengucapkannya

Karena ketika mendengarkan perkataan buruk

Hati-hati, Kau adalah kawan pembicaranya

 

∞∞§∞∞

Dalam kitab Memahami Hawa Nafsu: Rahasia Ilmu Kaum Muqorrobin (iidloochu asrori ‘uluumul muqorrobiin) Karya Habib Muhammad bin Abdullah bin Syeikh Alaydrus. Penerjemah Habib Novel Muhammad Alaydrus

 

Advertisements

jurang (1)

ini adalah jurang yang telah memisahkan kita. setelah sekian lama aku menantimu, dalam diam dan kebisuan. diam mematung diantara tebing yang curam. jurang ini menjadi pertanda bahwa ada jarak yang perlu dihubungkan, dengan jembatan. ada sedikit tali temali yang telah aku tambatkan untuk mencapai tebing yang lain. namun seringkali temali itu buram, menghilangkan jejak-jejak pertemuan kita karena tertutup kabut. kabut yang memutih memenuhi udara yang semakin dingin.

mengulang kembali awal pertemuan kita, antara sepi, sendiri dan keheningan. engkau berdiri di tebing sana, dengan meniup harpa istimewamu. aku yang diam mendengarkan alunan merdu harpamu menjadi terpesona. suaranya memecah kesunyian ruang,, dan tebing itu seakan berbunga. desahan nafasmu tercium menjadi parfum abadi yang kan selalu ku ingat. rasa dingin yang menyerang seakan hilang berganti canda tawa. dan kau semakin mendekatkan jarak, kaulah yang pertama melempar temali penghubung kita, dan tentu saja aku menyambutmu dengan hangat, secerah bunga merah kuning yang bermekaran.

(bersambung)

Image

Seringkali Manusia Lupa bahwa Bersyukur itu Penting

Seorang mandor bangunan yang berada di lantai 5 ingin memanggil pekerjanya yang lagi bekerja di bawah…
Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan…
Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh ke atas, dilemparnya uang. 1.000-an rupiah yang jatuh tepat di sebelah si pekerja.
Si pekerja hanya memungut uang Rp 1.000 dan melanjutkan pekerjaannya.
Sang mandor akhirnya melemparkan Rp 100.000 dan berharap si pekerja mau menengadah “sebentar saja” ke atas.
Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan uang Rp 100.000 dan kembali asyik bekerja.
Pada akhirnya sang mandor melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor…
Cerita tersebut di atas sama dengan kehidupan kita, Tuhan selalu ingin menyapa kita, akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi “dunia” kita.
Kita diberi rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur…!!!
Bahkan lebih sering kita tidak mau tahu dari mana rejeki itu datangnya···
Bahkan kita selalu bilang··· kita lagi “HOKI!”
Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rejeki milik Tuhan.
Jadi jangan sampai kita mendapatkan lemparan “batu kecil” yang kita sebut musibah…! agar kita mau menoleh kepada Tuhan.
Sungguh Tuhan sangat mencintai kita, semoga kita selalu ingat untuk menoleh keatas sebelum Tuhan melemparkan batu kecil

Diwan Imam Syafi’i

Pendapat ulama’ tentang Imam Syafi’I
Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “ Tidak pernah setiap aku selesei sholat selama 40 tahun meninggalkan berdo’a untuk Imam Syafi’i (Guru Beliau).”
seorang Ulama’ Harun bin Sa’id berkata: “aku tidak pernah melihat seperti dirinya, setiap pergi ke Mesir, selalu dielu-elukan orang karena tingginya batin dan ilmunya.”
Muridnya Muhammad bin Abdul Karim berkata: “Alangkah bahagianya aku jika aku punya anak seperti Asy- Syafi’I, bagiku uang 1000 dinar tak sanggup menandingi kebahagiaan itu”.
Ibnu Mu’min berkata kepada Sholeh bin Ahmad bin Hanbal, “ Wahai Sholeh Bapakmu (tentu) tidak akan malu jika harus memegangi kendali kuda Imam Syafi’I (ketika berkeliling kota)”

Syi’ir dari Imam Syafi’I tentang ilmu:
Saya amati orang yang berilmu itu mulya, kendati dilahirkan orang yang biasa-biasa saja.
Ilmu senantiasa agung, menjadi panutan tiap masyarakat. selalu menjadi panutan bagai gembala terhadap gembalaannya.
tanpa ilmu seorang tak mungkin peroleh kebahagiaan dan tak mungkin tahu halal haram.
acapkali aku mendidikku, aku semakin tahu kekurangan akalku. dan acapkali aku bertambah ilmu, aku makin tahu kebodohanku.
Ilmu selalu menyertai dimana saja aku berada, ia selalu tersimpan didalam hatiku bukan didalam kotak. apabila aku dirumah ilmu itu selalu mendampingiku, dan bila aku ke pasar ilmu itu selalu ikut aku ke pasar.
seseorang ingin mempraktikkan ilmunya lalu menimbulkan kesalahan / petaka tanpa sengaja, tapi itu lumrah saja, seperti orang ingin melakukan ketaatan tapi masih melakukan kesalahan-kesalahan.

Kata Imam Syafi’i:
Setiap malam aku terjaga untuk memeras ilmu, sungguh terasa lebih nikmat daripada suara biduanita atau nikmatnya berpelukan. Suara goresan penaku diatas selembar kertas terasa jauh lebih manis dibandingkan belaian kasih sayang dan kerinduan dan lebih nikmat daripada kecupan seorang gadis. Dan semangatku untuk memecahkan kesulitan masalahku, lebih lezat disbanding minuman yang nikmat. dan ditengah keheningan malam aku senantiasa terjaga namun ditengah malam anda terlelap, lalu bagaimana anda berharap mengikuti jejakku?
Ilmu merupakan tempat persemaian semua kemuliaan, maka taburkanlah semaian kebaikan dan anda harus prihatin. dan jika persemaian itu tak berhasil maka anda harus prihatin maka anda berhasil. ketahuilah bahwa ilmu tidak akan didapat orang yang hanya berpikir tentang makanan dan pakaian.
Bukan dikatakan ilmuwan jika kondisinya sangat sengsara atau malah kelebihan harta, lalu ia gelisah atau tenang. maka jadikanlah diri anda sebagai orang yang memiliki peranan hilangkan sikap santai-santai dan acuh tak acuh. mungkin nanti anda ada didalam sebuah majlis ta’lim maka jadilah pimpinan dan bintang-bintang majlis ta’lim
kenapa aku harus menabur permata didepan unta dan rakit untaian mutiara didepan gembala. aku bersumpah kalaupun kalaupun aku terisolir dinegeri yang krisis etika, tak akan ku lepas kata-kata berharga.
sungguh jika Allah memudahkan jalan rahmatnya, dan aku mendapat ilmu dengan ahlinya, niscaya aku beberkan faidah dengan sempurna dan kuperoleh kasih saying dari mereka. tapi jika tidak maka untaian berharga akan ku simpan dengan rapatnya.
barang siapa mengobral ilmu kepada yang bukan ahlinya maka ia sia-sia menelantarkan ilmunya, namun barang siapa menyimpan ilmu kepada ahlinya maka ia orang yang dzolim dan miskin kebajikan.
belajarlah, karena tiada seorang pun yang lahir dengan membawa ilmu, jelas tak sama antara orang alim dengan orang bodoh. orang yang telah ditokohkan namun tidak berilmu ia tampak kecil ditengah keluasan. namun orang yang tak terpandang namun berilmu ia akan menjadi besar dan terkenal di dalam perjamuan-perjamuan penting.
Ilmu itu susah jika ia disibukkan urusan keluarga. ilmu itu sulit didapat kecuali jika ia masih bebas dari hal-hal yang menyibukkan.
Andaikata luqmanul hakim yang dalam perjalanan hidupnya kelebihan hikmah tiada tara ia teruji kemiskinan, jika ia sibuk dengan kemiskinan dan keluarganya, maka ia akan sulit membedakan antara buah tin dan buah baqol (jawa: buah loh yang tumbuh di tepi sungai-sungai)
bersabarlah dalam mencari ilmu, bersabarlah terhadap hinaan/ celaan seorang guru, karena kegagalan penuntut ilmu jika ia tak sanggup dengan hal itu, jika ia tak sabar sesaat maka ia akan terhina selamanya. barangsiapa tidak pernah merasakan pahitnya mencari ilmu walau sesaat maka ia akan bodoh selamanya.
barang siapa ketinggalan ilmu di masa mudanya maka bacakan takbir empat kali (4x) seumur hidupnya. Demi Allah kemuliaan seorang pemuda dengan ilmu dan taqwa. jika ia tak punya itu, ia tak pantas disebut pemuda dalam hidupnya.