Pelajaran Syukur dari Penjual Tahu Sumedang

sumedang

 

Ikhtiar lahir batin”

Hidup ini amatlah singkat untuk mencapai kesuksesan dan kepuasan hidup, ada banyak cara yang dilakukan seseorang. Amat banyak orang yang sukses menapaki hidup, rumah mewah, duit berlimpah, kendaraan gonta-ganti, bahkan istri berjumlah empat menjadi dambaan hampir kebanyakan pemuda. Namun, siang ini saya mendapat pelajaran berharga dari seorang bapak penjual tahu sumedang. Beliau seorang yang amat bersahaja, murah senyum dan tak segan berbagi pengalaman hidupnya kepada saya.

Karena segan, saya tak sempat menanyakan namanya. Ditengah suasana lebaran, bapak itu masih bersemangat mencari pundi-pundi uang yang siap digunakan untuk menafkahi anak istri di rumah. Karena di moment mudik seperti ini, banyak sekali masyarakat yang berkunjung ke saudara atau rekannya. Pastinya berkumpulnya massa di keramaian seperti stasiun menjadi pasar yang bagus bagi para pedagang salah satunya penjual tahu sumedang

Awalnya saya hanya mengajak ngobrol beliau, basa-basi tentang asal daerahnya dari mana, ternyata bapaknya berasal dari sukabumi. Bukan dari kota sumedang sebagaimana dagangan yang beliau jual.

Melalui corat-coret singkat ini saya ingin menuliskan nasehatnya kepada saya. Beliau berpesan untuk bisa sukses dan bahagia kita butuh dua usaha, usaha lahir dan usaha batin. Usaha lahir berwujud kita bekerja, berwirausaha yang penting rajin dan tekun mencari nafkah. Sedangkan usaha batin yang beliau pesankan adalah pentingnya memperbaiki hubungan dengan Alloh. Beliau mencontohkan hidupnya. Sebelum terjun di bisnis tahu sumedang, beliau telah mencoba berbagai pekerjaan misalnya jualan kaki lima, menjadi tukang bangunan, dan lain-lain. Adakalanya usahanya berjalan mulus, adakalanya berjalan dengan sedikit gronjalan. Tapi beliau tak pernah lelah, beliau berdo’a kepada Alloh, beliau mendekatkan diri dengan rajin sholat malam dan sholat dhuha, puasa weton. Puasa senin kamis, silaturahmi ke ulama serta memperbanyak dzikir.

Nasehat tersebut diatas hingga saat ini masih teringat dibenak saya. Apalagi waktu itu disampaikan pada waktu balik dari lebaran hari ke 3 syawal. Biasanya hari saya bersilaturahmi ke para guru di singosari atau ke saudara-saudara. Semoga nasehat-nasehat beliau dapat saya laksanakan. Pelajaran hidup dari bapak penjual tahu sumedang.

“jiwailah dagang”

Menjadi seorang pedagang tidak boleh hanya mampu menjual sebanyak-banyaknya barang dagangannya. Seorang pedagang harus memiliki jiwa dagang dalam hidupnya. Jiwa dagang ini berarti kemampuan menerima segala kelebihan dan kekurangan dalam usaha. Seorang pedagang yang telah menjiwai bisnisnya, akan siap ketika terjadi penurunan omset penjualan. Seorang yang memiliki jiwa dagang faham roda rezeki itu berputar. Seorang yang punya jiwa dagang akan mencari cara bagaimana agar usahanya berputar namun tidak akan marah kepada konsumen yang tidak jadi membeli produk yang ditawarnya. Jiwa dagang ini terbentuk secara instan namun berbanding lurus dengan kemampuan pedagang memahami makna dalam kehidupannya. Dan masih menurut bapak penjual tahu sumedang yang saya temui di stasiun, saat ini banyak sekali pedagang namun yang memiliki jiwa dagang jumlahnya relative  sedikit. Jika saat hasil dagangan turun mengeluh dan mungkin memaki-maki orang lain, maka itu salah satu indikasi pedagang itu belum menjiwai dagang karena pada hakikatnya ia tidak menerima rezeki yang diberikan tuhan dengan ikhlas dan bersyukur. Maka para pembaca yang saya hormati, mari kita renungkan. Yang diperlukan seorang pengusaha bukan hanya kemampuan menjual, namun juga kesiapan menerima resiko sehingga hidup yang dijalani akan lebih indah, dan membahagiakan.