Mini review: Kerf Case wooden iPhone cases

casing dari kayu.. pingin punya.. heh

Advertisements

Pengembangan Usaha Ternak Sapi Perah Rakyat melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR)

Judul Esai         : Pengembangan Usaha Ternak Sapi Perah Rakyat melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR)

Universitas          : Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), Jurusan Statistik Ekonomi

Email                   : jn500091@gmail.com atau 09.6016@stis.ac.id

Alamat                 : Jalan Ayub no.12 Otista RT 005 RW 008 Kelurahan Bidaracina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.

No HP/Telp.        : 08561502301

Akun Twitter/Fb   : Joko Ade Nur/Joko Ade

Susu merupakan produk yang sangat diperlukan dalam pemenuhan kebutuhan gizi sehari-hari manusia, khususnya bagi masyarakat Indonesia. Dengan manfaat tersebut menyebabkan jumlah permintaan susu nasional mengalami peningkatan setiap tahun. Hal ini tidak terlepas dari pertumbuhan penduduk Indonesia yang meningkat ditambah dengan struktur penduduk yang mayoritas dari kalangan usia mudah dan lansia. Namun anehnya, sampai saat ini permintaan susu nasional masih tetap belum diimbangi oleh persediaan susu nasional. Isu ketimpangan ini bukan sebuah wacana melainkan sudah terjadi dan banyak diberitakan di media publik. Beberapa fakta miris soal persusuan Indonesia masih sangat nyata, misalnya 70% pasokan susu di dalam negeri berasal dari impor, konsumsi susu per kapita Indonesia masih terendah se-ASEAN, bahkan kalah dengan Malaysia[1]. Begitu pula pada tahun 2012, menurut Direktur Budidaya Ternak Kementrian Peternakan, produksi susu di Indonesia mencapai 1.208.000 ton, sangat jauh dengan permintaan terhadap susu yang mencapai angka 3.120.000 ton (detikfinace, 2012)[2]. Berdasarkan data juga menunjukkan bahwa produksi susu nasional tahun 2012 hanya sebesar 1.017.930[3] ton, meskipun mengalami peningkatan jumlah produksi sebesar 4,44% dari tahun 2011 (Dirjen Peternakan, 2012). Pada tahun 2011, nilai impor susu Indonesia juga terbilang tinggi. Dari total kebutuhan konsumsi susu per tahun yang mencapai 2,7 juta liter, sekitar 75% di antaranya masih dipenuhi dari impor. Sedangkan produksi dalam negeri baru mampu memenuhi 25% kebutuhan susu nasional[4].

Beberapa fakta ketimpangan permintaan susu dan stok susu nasional tersebut dapat disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena produksi susu nasional masih mengandalkan peternak kecil. Hal ini tentu akan sangat sulit untuk menghasilkan volume pasokan susu yang besar dari peternak, sementara rata-rata kepemilikan sapi perah peternak sekitar 2-3 ekor saja dan secara total, jumlah sapi perah nasional hanya 452.588 ekor (BPS, PSPK[5] 2011). Kedua, karena produktivitas sapi perah yang rendah, hal ini sangat terkait dengan manajemen pakan dan perkandangan yang rendah serta skala usaha yang masih kecil.Disinilah urgensi pemberian investasi dalam bentuk Kredit Usaha Rakyat (KUR). KUR merupakan kredit atau pembiayaan kepada Usaha Mikro Kecil Menengah Koperasi (UMKM-K) dalam bentuk pemberian modal kerja dan investasi yang didukung fasilitas penjaminan untuk usaha produktif yang dicanangkan oleh pemerintah namun sumber dananya berasal sepenuhnya dari dana bank, dengan jaminan risiko 70% ditanggung pemerintah dan 30% oleh bank. KUR disalurkan melalui 6 bank pelaksana yaitu Mandiri, BRI, BNI, Bukopin, BTN, dan Bank Syariah Mandiri (BSM). KUR disalurkan kepada UMKM-K untuk modal kerja dan investasi dengan ketentuan untuk kredit sampai dengan Rp. 5.000.000,00 dikenakan tingkat bunga maksimal 24% per tahun dan untuk kredit diatas Rp. 5.000.000,00 hingga Rp. 500.000.000,00 dikenakan tingkat bunga maksimal 16% per tahun[6]. Dalam hal ini jika suku bunga diturunkan maka minat nasabah untuk meminjam juga akan bergairah sehingga perlu untuk diturunkan meskipun dengan koreksi karena penetapan suku bunga pinjaman yang kecil akan meningkatkan para motivasi peternak untuk meminjam.

Dengan banyaknya kendala yang dihadapi oleh para peternak susu secara nasional secara jelas menunjukkan bahwa kedepannya, usaha ternak sapi perah rakyat mempunyai peluang besar untuk ditumbuhkembangkan. Oleh karena itu, dalam menanggapi permasalahan yang ada maka diperlukan sebuah mekanisme rekomendasi dengan melibatkan 3 elemen, yaitu pemerintah, bank penyalur KUR, dan peternak sebagai pelaku usaha. Mekanisme tersebut dimulai dengan menilai proporsi jaminan yang diberikan pemerintah kepada bank, hal ini sangat diperlukan untuk mengurangi keraguan bank dalam memberikan kredit kepada para peternak sapi perah mengingat banyaknya terjadi kredit macet atau return investasi yang kecil. Lalu menanggapi kurangnya stok susu nasional, maka terdeteksi adanya kekurangan jumlah sapi perah nasional[7]. Ini bisa diatasi dengan penyaluran KUR kepada peternak dengan mediasi Koperasi (di tingkat desa disebut Koperasi Unit Desa (KUD)) dalam bentuk sapi perah yang siap berproduksi susu. Hal ini dilakukan karena jika pemberiannya dalam bentuk sapi muda atau anakan memerlukan biaya pemeliharaan yang tinggi hingga mencapai usia siap berproduksi susu. Diharapkan dengan pemberian kredit fisik seperti ini, peternak mendapatkan keuntungan dan langsung siap produksi, tentu dengan jumlah kepemilikan sapi yang ideal untuk setiap peternak, yakni sebanyak 8 ekor sapi perah[8]. Jika peternak dalam perjalanannya tidak menguntungkan maka perlu diberikan KUR tambahan kepada peternak serta menggalakkan program kerjasama antar peternak untuk meningkatkan manajemen dan produktivitas ternak. Jika suntikan dana pada peternak selama periode waktu tertentu mendapat keuntungan, disinilah diperlukan sistem bagi hasil secara bergantian, misalnya anakan sapi pertama untuk peternak, anakan sapi berikutnya untuk pihak bank dan pemerintah dan seterusnya. Disinilah bank dan pemerintah dapat mengambil return invetasinya.

Sementara itu, untuk produk susunya hanya untuk digunakan oleh peternak sebagai bahan baku atau pasokan susu segar ke koperasi sebagai penampunganya dan nantinya untuk memenuhi kebutuhan susu nasional. Pada tahun 2011 saja, jumlah peternak sapi perah sebanyak 529.000 peternak (dengan asumsi peternak aktif) (BPS, 2011), jika masing-masing mempunyai 8 ekor  sapi produktif (diperah) dengan total susu per hari diasumsikan ideal, yakni sebanyak 15 liter maka total susu yang dihasilkan secara nasional mencapai 63.480.000 liter per hari atau sekitar 65.384,4 ton per hari, sehingga dalam waktu 1 tahun sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional[9]. Selain untuk memenuhi kebutuhan nasional, secara langsung juga berdampak pada peningkatan pendapatan peternak, dalam hal ini menyangkut kesejahteraannya.

Dalam tahapan sistem bagi hasil antara peternak dan pihak bank yang bekerjasama dengan pemerintah, jika hak kepemilikan untuk pemerintah adalah anakan betina maka dilakukan pendewasaan dengan membangun tempat memanfaatkan sumber daya yang ada sehingga akan mampu menyerap tenaga kerja yang ada. Ketika usia anakan betina sudah mencapai tahapan produksi susu pertama kali sampai pada batasan laktasi kedua atau ketiga, sapi perah yang siap produksi susu tersebut diberikan kepada peternak yang membutuhkan, tentu dengan jaminan peternak tersebut sudah berpengalaman. Namun jika bagian hak milik dari sistem bagi hasil tersebut adalah anakan berkelamin jantan, maka dilakukan pendewasaan dan penggemukan yang nantinya dijual sebagai pembiayaan modal kembali. Dalam hal ini, dengan penyerapan tenaga kerja pada program pendewasaan sapi, perlu diadakan program pendidikan dan pelatihan beternak pada karyawan yang nantinya dipersiapkan sebagai kader peternak sapi perah rakyat secara mandiri atau siap berwirausaha. Secara sistematis digambarkan sebagai berikut :

 

Gambar 1. Mekanisme Pengembangan Usaha Ternak Sapi Perah melalui KUR

Akhirnya, dengan sistem tersebut diharapkan selain untuk meningkatkan kesejahteraan bagi peternak, memenuhi kebutuhan susu nasional dan urgensi pemerintah bekerjasama dengan bank untuk mengadakan program pendewasaan sapi menuju siap produksi juga mampu mengekspansi usaha ternak sapi perah serta secara tidak langsung akan mampu menyerap tenaga kerja dan mengurangi jumlah pengangguran. Tentunya, sebelum sebuah program tereksekusi perlu dilakukan kajian secara empiris melalui studi ilmiah dan analisa statistik guna menjamin program tersebut efektif dan efisien, terutama untuk mendapatkan cluster-cluster daerah yang potensial untuk pengembangan usaha ternak sapi perah.


[2] Suhendra, Zulfi. 2012. Konsumsi Susu Orang Indonesia Lebih Rendah dari Malaysia dan Filipina. http://finance.detik.com/read/2012/05/28/165325/1926614/4/konsumsi-susu-orang-

indonesia-lebih-rendah-dari-malaysia-filipina  [16 Maret 2013]

[3] Angka sementara Direktorat  Jenderal Peternakan tahun 2012.

[5] PSPK : Pendataan Sapi Potong, Perah dan Kerbau, hasil kerjasama BPS dan Kementan

[7] Menurut Mukson, dkk. (2009), jumlah populasi sapi laktasi (yang diperah) berpengaruh signifikan terhadap produksi susu. [jurnal ilmiah : Faktor-faktor yang mempengaruhi usaha ternak sapi perah rakyat]

[8] Modul P.12. MPPD Panduan Beternak Sapi Perah PT. Netsle, Kejayan. 2009. Hal. 24

[9] Asumsi penyusutan di tingkat penampungan susu sebesar 1% per bulan, dengan total penyusutan sebesar 10% per bulan di tingkat produksi akhir susu.

refleksi hati saat belajar memahami

Apa yang terlintas dalam pikiranku, membuat raga seakan jemu.

kami terkadang hampir ingin memuntahkan apa yang membuat kami jijik.

karena ada muak yang tak layak untuk disimpan..

kerinduan akan kesenangan, kebahagiaan dan kemakmuran, senantiasa memenuhi keinginan manusia.

kami rindu sedalam inti bumi.

untuk dapat mewujudkan keinginan itu.

 

Image

apa yang wujud dalam nyata harus disadari

semua berpasang-pasangan,

aku harus sadar kalo ingin bahagia, susah juga harus dialami

kalo ingin kaya, miskin juga harus dipahami

karena kemakmuran itu, baru lengkap saat kau dapat membantu saudaramu yang miskin

sungguh naluri jiwa ini, ingin selalu dalam kebaikan. ingin berbagi dalam kedamaian dan yang ada semua itu adalah proses

TUhan ingin kita memahami hidup itu dengan benar, sehingga ia mengirim Utusannya untuk membantu kita memahami ayat-ayat yang ia sampaikan pada kita.

Beberapa Nasehat Steve Jobs

sumber: google
sumber: google

Waktu Anda terbatas, Jadi jangan tersia-siakan karena terganggu dengan hidup orang lain. Jangan terperangkap dalam dogma – yaitu hidup dengan hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan pendapat orang lain menenggelamkan suara batin anda sendiri. Dan yang paling penting, miliki keberanian untuk mengikuti suara hati dan intuisi. –Steve Jobs, 2005

Saya tidak berpikir bahwa satu perusahaan dapat melakukan semua hal. Karena itu, Anda harus bermitra dengan orang-orang yang tepat. –Steve Jobs, 2007

Mari Kita “ciptakan” hari esok, daripada mengkhawatirkan tentang apa yang terjadi kemarin. –Steve Jobs 2010

Satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan besar adalah mencintai apa yang anda kerjakan. Jika anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan berdiam diri. Seperti semua hal yang terkait dengan hati, anda akan tahu bila anda telah menemukannya. –Steve Jobs

“mengutip dari buku yang pernah saya Baca.. sayang lupa judulnya”