Gerimis 1

​Malam ini gerimis turun di sekitar rumahku… Apakah di kotamu juga sama? Hingga anganku terbang menanti sedikit kabar darimu.

 

Kuingat percakapan lalu-lalu, saat kau simpulkan bahwa hujan menunjukkan keadaan hatiku yang tengah sedih. Aku ingin menyangkalnya. Karena bagiku hujan adalah pelipur duka, kesempatan bagi hamba untuk meminta lebih.

 
Tapi tak bisa pula aku menolak kenyataan, bahwa ada sedikit goresan. goresan yang akan menguatkan rasa yang mulai tumbuh. meski ada perih setitik, tapi itu hanya sedikit tanya… “Baik-baikkah di sana?”
Lalu seulas senyum yang sempat kurekam dalam memori hadir memberi kekuatan tuk kembali menenangkan diri. 🙂
20-07-2016

Sehari sebelum kau putuskan 😀

Sungguhkah Rindu? -#azh

​Sungguhkah merindukanmu 

Aku mempertanyakan perihal rasa menggelisahkan kalbu

Ketika detik-detak waktu terus menggulirkanmu 

Diantara garis-garis yang membujur itu

Lewati titik-titik kelabu

Aku kau telah berjalan bersampingan sekian waktu

Tpi masa yang tak jua menghapus kenangan lalu

Ah! ini cinta atau nafsu

Gelora di dada ingin miliki seluruhmu

Tapi bukankah itu keegoisan semu

Dan jiwa pun tak mampu

Hadapi gelombang sedahsyat itu

Biarlah saat ini diri huni rongga pilu

Tempatku mengingat gerutu

Bahwa janji pun kadang palsu

Karena kita tak peroleh restu

Malang, 02 September 2016

#azh

Tentang Kamu -#azh

​Aku mencoba merangkai doa-doa agar diberi kekuatan. Setelah kehilangannya aku tersadar hidupku ternyata sangat lemah dan rapuh. Tapi jika belum mati, masih ada kesempatan untuk bersatu. Bukankah para pecinta dulu selalu menyatakan itu dalam gubahan-gubahan syairnya?
Lalu, bagaikan orang gila. Para pecinta melupakan nasihat sekelilingnya. “Sudah tinggalkan saja dia yang tidak mau memperjuangkanmu.” Begitulah nasihat-nasihat yang keluar dari mereka yang menyayangiku dengan tulus.
Apakah yang harus kupercayai. Bingung, Aku tak tahu, Aku hanya pasrah. Katanya cinta tak harus saling memiliki. Tapi itu, sakit. Sungguh. 
Padahal perasaanku, masih menginginkannya. Mimpi-mimpi indah yang sempat terajut, masih sering terkenang. 
Ya Alloh…

Tolong aku…
02/08/2016

late post

Setelah Jam Istirahat

Saat pelajaran kedua, setelah istirahat. Bel tanda pelajaran dimulai. Anak-anak pun selesai menghabiskan uang sakunya. Mereka sudah berada di kelas masing-masing. Di depan pintu kelas 2B, Naufal sudah menunggu. Ia berdiri terpaku sambil memandang wajahku dengan senyum dikulum. Ada apa ini? Energi positif dari senyumannya membuatku lebih bersemangat masuk ke dalam kelas. 

Wah, baru beberapa langkah. Ada yang nggak enak. Anak-anak putri melapor, Nazwa menangis, wah beneran wajahnya menunduk ke meja. Kata anak-anak putri, Rizki yang membuat Nazwa menangis. Aku kurang jelas dengan penjelasan mereka yang saling bersahutan. Akhirnya, aku gunakan kesempatan itu untuk mendengarkan cerita mereka dengan bahasa sendiri. Kutanya Izza, ia berusaha menjelaskan dengan runtut kejadiannya meski dengan bahasa terbata-bata.

Aku mencoba mengambil hati Nazwa, agar ia mau berhenti menangis. Tapi ia tetap tidak mau berhenti. Ia masih terus menundukkkan wajahnya. Karena tangisannya tak juga berhenti, aku hanyya mengelus kepalanya. 

Kelas harus terus berlangsung bukan. Anak-anak lainnya masih bermain. Kuputuskan biar Nazwa menangis. Aku menulis pelajaran di papan dan memberi mereka soal cerita. Tangis Nazwa pun berhenti, sedangkan anak-anak mulai duduk dan mengikuti pelajaran. Alhamdulillah. Pelajaran bisa berlangsung dengan lancar hingga waktu usai

Pelajaran yang saya petik adalah:

Tanggapi masalah dengan tepat, jika tidak bisa diselesaikan, biarkan saja. Berpindahlah ke hal-hal positif. Dan dengan sendirinya Tuhan membantu meredakan gejolak yang ada.

Mendidik Anak-Anak Istimewa

​Mendidik Anak-Anak Istimewa

(Seri Manajemen Pendidikan)
Daftar Isi

1. Anak adalah anugerah

2. Memahami kecerdasan dan bakat anak

3. Mengenali karakter anak-anak

4. Bermain atau belajar ya?

5. Menyiasati kenakalan anak-anak

6. Metode untuk menarik perhatian anak-anak

  #bercerita

  #cerdas tangkas

  #reward & punishment

  #tanya jawab

  #ajak beraktivitas

7. Menanamkan budi pekerti yang baik
Malang, 2 September 2016

Ifa Masluhah

Mengingat Kamu Itu 

​”Hai, apa kabar?”
Mataku langsung terbelalak. Rasa kantuk yang tadi masih menggelayut manja, tiba-tiba hilang. Ya ampun. Dia, mengirim pesan untukku. Padahal, sudah sekian lama dia tidak lagi ngobrol dan menyapa.
Tapi, aku bingung. Apa yang harus kujawab. Rasa senang sekaligus sebal kembali menyerang perasaanku. Ya, aku seseorang yang hanya mengandalkan rasa. Untuk menggunakan akal sehat, sepertinya itu sudah terhapus dari kamus hidupku.
Sudah sejak lama, sejak mengenal Dia. Aku hanya meengandalkan insting. Hari-hari indah yang dulu kami lalui di Berlin jelas teringat. Masih bagaikan membuka lembaran kertas baru, dan coretan tinta yang masih jelas, berwarna biru.
02 Agustus 2016

#fiksi