Hidup itu Ujian

Kemarin kita tertawa bahagia

Hari ini sedih tak terkira

Tapi saat masalah dikembalikan pada Sang Pencipta

Tanpa sengaja hiburan datang seketika

.

Segala puji Hanya bagi Alloh SWT…  

Advertisements

Mbah In

Sosok bersahaja,  usianya sekitar seratus tahun,  bisa kurang atau lebih. Beliau salah satu panutan wanita yang istimewa. Meski sudah sepuh,  beliau daya ingatnya masih lumayan tajam. 

Mbah In sudah tak bersuami sejak tahun 2002. Suaminya Mbah Jono adalah saudara mbokku (nenekku). Jadi Mbah In adalah nenek ipar di keluargaku.  Tapi, perlakuan beliau kepada kami bagaikan cucu sendiri. 

Sehari-hari bisa dibilang beliau hidup sendiri atau bersama cucu keponakan. Cucu dan cicitnya diikhlaskannya tidak mendampingi masa tuanya. Dari beliau aku melihat ketegaran dan pelajaran sabar yang luar biasa.  Urusan di dalam keluarga beliau tak berani saya menebak-nebak lebih jauh.  

Mbah In,  sudah pergi haji ke tanah suci, rajin beribadah ke Masjid Hizbulloh Singosari. Pesan beliau dulu,  sebelum aku berangkat ke Jakarta. 

“Jangan pernah nggumunan” (jangan mudah heran dan terpesona)

“Anggap segala sesuatu dengan wajar.”

Belajar ikhlas,  sabar dan neriman. Banyak sekali nasehat dari beliau, namun kini harus kugali lagi dalam memori yang sudah mulai menua. 

Lalu di lebaran kali ini, aku mendapat wejangan lagi. Terkait masa depan. Terkait kehidupan berumah tangga. Dalam sekali. 

“Nduk, mbesok lek wes nikah, kudu iso ngalah.  Gantian,  lek misale diseneni bojomu, meneng o ae,  rungokno tok.  Suwe-suwe lak kesel a …. Aku mbiyen sama pakdene bapakmu gak tau tukaran blas, alhamdulillah. “

Rasanya,  makjleb. Aku nanti bagaimana kalau sudah menikah, bisakah mencontoh kebaikan mereka.  Meneladani akhlak baik mereka.  Rukun dan saling menyayangi.  

–Nanti kita belajar mengalah ya Mas.– hehe,sstt #kode

Curcol Abstrak

Lagi menambah isi konten tulisan yang pernah di post. Hmm…  Kayaknya isi tulisanku minim sekali ya.  Andai aku bisa nulis panjang,  berbobot,  nggak gampang membuat orang lain bosan,  pasti senang. 

Apa yang dilakukan penulis-penulis produktif yang mampu menuliskan cerita hingga Selesai ya. Apa mungkin akibat aku lebih memilih aktivitas lain dan tak menyisihkan waktu yang tepat untukku menuangkan cerita dalam bentuk tulisan. 

Membiasakan diri rajin menulis di jam dan waktu yang sama secara rutin setiap hari, alangkah senangnya. 

Belum apa-apa mata sudah berair,  mulut menguap.  Hmm,  aku ini tukang tidur apa ya… Kog nggak bisa begadang untuk menulis.  Apa aku tak punya deadline jelas? Tulisan-tulisan masih mengambang nggak selesai.  

Astaghfirulloh. 

Pagi ini,  coba menambahi sisi abstrak dari tulisan abstrak.  Bagaimana rasa kentang. Kentang yang sudah dikupas tapi belum dimasak. 

Haha.  Gak jelas men…. 

Terus manusia itu lebih baik hidup di dunia ini sendiri atau bersama orang lain? 

Sms Minta Maaf

Ini adalah lebaran pertamaku di luar kota.  Ada sedih merayap menggerogoti rasa bahagia.  Tapi cita-cita besar menjadi salah satu pelipur lara.  

Sebagai satu-satunya anak gadis dalam keluarga,  sebenarnya ada rasa berat meninggalkan rumah.  Tapi,  karena  sudah lulus ujian masuk sastra Indonesia UI, aku memilih untuk tetap berangkat. Syukurlah bapak dan ibu memberi ijin, meski dengan berat hati.

Menjalani hari-hari yang begitu menegangkan,  tanpa sanak keluarga dan kenalan.  Maklum aku adalah anak udik yang terjun ke kota besar.

Di sini aku ditempa menjadi pribadi tangguh. Belajar mandiri, meski kadang sesak menghinggapi. Ah ini sudah keputusanku. Ini ujian yang harus kulewati dalam hidup. 

“Bunda,  maaf aku belum bisa pulang.” bunyi sms yang kukirimkan ke rumah. Sangat singkat.

Lalu aku menangis sesenggukan. 
—fiksilebaran2017—

Bagaimana Akhir Dunia? 

Apa yang terjadi dengan dunia ini 1000 tahun lagi? 

Ada pertanyaan yang melintasi kepala. Masihkah bumi ini berputar mengelilingi matahari, atau?  Sudah musnah…  Karena kiamat telah meratakannya dan menghamparkannya menjadi bagian dari padang makhsyar. 

3017 seribu tahun lagi. Masihkah ada umat manusia anak cucu Nabi Adam hidup dan menjadi khalifah?  Ataukah telah hancur lebur menuju alam lain alam terakhir dari kehidupan?

Tapi, manusia tak akan pernah tahu kapan kiamat itu terjadi.  Sebagai umat yang meyakini Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir dan Al Qur”an sebagai salah satu mukjizat terbesarnya,  kami diwajibkan mengimaninya. 

Setiap orang tak ada yang tahu kapan pastinya kiamat terjadi. Karena itu adalah salah satu kabar gaib dari Allah selain surga dan neraka. 

Tanda-tanda kiamat itu ada banyak sekali. Tapi perlu referensi untuk menulisnya. Jika ada kesempatan insyaAlloh akan ditulis

Terima kasih,  yang sudah berkenan baca ^_^