abstrak 2

Yang menyakitkan dalam hidup adalah tidak menjadi diri kita sendiri.  Menjalankan harapan dan cita-cita orang lain. 

Yang menyakitkan adalah mengorbankan keyakinan diri sendiri,  lalu terpaksa melaksanakan perintah.  Hidup tanpa hati berjalan seperti robot. 

Yang menyakitkan, aku belum berani menyapamu dengan bebas. Aku tak berani.  Kau juga kah?  

~begitu banyak rahasia di antara kita~

Kapan kita akan berjumpa bersama. 

Sebentar lagi,  sebentar lagi. 

Aku menapaki jalan ini dengan tertatih. 

Ini ada yang basah menggenang di pelupuk mata. Namun hangat. 

Andai saja kutahu segalanya,  tak akan lagi ada penasaran yang mendebarkan bukan? 

Ah..  Sudahlah…  Saat aku menceritakan rasaku yang terdalam.  Kau juga akan diam saja kah?  

Ah apalah ini…  

Mungkin tak baik jika kuceritakan dengan detail.  Tapi segala yang sudah terjadi kuresapi.  Aku merasa tempatku bukan di sini.  Mmmm….  Bersamamu aku akan bahagiakan…  

~semoga ini cinta~

Sebuah catatan harian abstrak (1)

Saat memahami diri ini tak lagi merasa nyaman.  Maka aku mulai mengawasi hal remeh temeh, melihat perubahan-perubahan kecil yang tak seharusnya. Jauh melenceng dari keinginan.  

Perlahan aku mengambil jarak yang membuat kepala terasa pening.  Aku pusing tujuh keliling.  Mengingat diri yang tak lagi sama.  Melihat apakah aku penyebab masalah dari segala kondisi. Ketidakberesan ini.  Rasanya semakin lelah, merasa tertekan dan terpuruk. 

Bisa jadi sekian waktu yang akan datang aku akan mensyukuri kejadian hari ini. Bahwa aku dianggap tak ada dan aku bukan siapa-siapa. Aku tak layak duduk di barisan mereka. Dan aku hanya pantas melayani… 

Tapi, saat terpuruk, aku kembali lari ke alam yang membebaskanku.  Mengingat lagi mimpi dan cita-cita. Berharap dukungan dari orang-orang terkasih. Semoga dia akan benar-benar memahamiku.  

Bias-bias kejadian tak bisa kulupakan.  Air mata yang menetes perlahan. Biarkan aku menangis….  Aku membiarkannya luruh dengan gigil yang semakin penuh.  

Aku merasa jatuh.  Kenapa malah justru yang hadir adalah pemikiran negatif.  Aku tak bisa apa-apa…. 

Ketika tangan dan kakiku,  menolak untuk bangun,  ketika mataku memandang sinis ke orang baru.  Aku takut.  Aku takut jiwaku terkikis oleh keegoisanku sendiri. Taukah sulit untuk mengikhlaskan hal ini. 

Lalu aku hanya harus bertahan dengan senyum yang harus riang.  Dengan segala sesuatu yang baik.  Dan aku harus menyeimbangkan kesehatan jiwa dan ragaku.  Jangan setres,  jangan gila. Keluarga sejatimu sedang menunggu di rumah. 

-love you-

Ifa Masluhah

Gadis dengan prestasi yang membanggakan madrasah. 

Lalu aku mencari-cari sosokmu…  Usia yang terpaut jauh membuatku kehilangan jejak… Tapi namamu begitu harum..  Satu dekade generasi bahkan tidak lekang

Dua puluh tahun kemudian, aku dipertemukan denganmu.  Kita sama-sama alumni MiA 08… Aku yang tak sejenius dirimu mendapat amanah untuk ikut mengabdi, di almamater tercinta. 

Sejak hari pertama,  aku langsung suka, dan bersemangat bekerja sama denganmu… Partner kerja yang sip,  penuh dedikasi,  dan mampu menuntunku menjalankan tugas administrasi sekolah… 

Setahun pas kita bekerja bersama…  Banyak obrolan yang kita bahas… Dan dengan semangat membantuku bertemu dengan calon jodohku… 

Bu ima makasih banyak…

Semoga bahagia bu di riyadlul jannah…  Sudah gak sakit lagi,  gak perlu cuci darah lagi…