Konsekuensi Ikhtiar

Konsekuensi Ikhtiar
Oleh: Ifa Masluhah

Menjalani hidup di dunia yang fana ini pasti kita akan mengalami dan merasakan kesuksesan juga kegagalan. Dua akibat itu adalah mutlak ada, mana mungkin ada orang sukses jika tidak ada orang lain yang gagal. Begitu pula sebaliknya tidak ada orang gagal kalau tidak ada orang sukses. Kesuksesan dan kegagalan itu pasti silih berganti seperti roda berputar. Itulah kenyataan hidup yang memang harus kita jalani. Tidak ada jaminan seseorang selalu sukses atau selalu gagal.
Sukses dan gagal merupakan tolok ukur akhir dari sebuah misi. Saat seseorang berhasil menyelesaikan tugasnya, bisa jadi dia merasa puas dan senang. Ia akan menganggap kewajibannya mampu diselesaikan. Namun meski terselesaikan, boleh jadi beberapa masalah belum terjawab sehingga orang lain menyimpulkan bahwa tugas yang sudah dia kerjakan gagal. Ada aspek-aspek dalam kehidupan yang sangat kompleks, saling bersinggungan dan tarik menarik. Satu unsur mengklaim A sukses dan unsur lainnya mengklaim A gagal. Perbedaan itu terjadi karena sudut pandang dan ukuran sukses setiap orang memiliki standard yang tak sama.
Kebanyakan orang menganggap bahwa sukses itu identik dengan orang yang berhasil secara finansial. Mereka yang dikaruniai rejeki berlebih dengan memiliki kendaraan dan rumah mewah biasanya disebut orang sukses. Tapi terkadang kesuksesan financial tersebut berbanding terbalik dengan kualitas hidupnya. Dari sudut pandang lain terkadang kita menilai “Oh ternyata si A gagal loh dalam membina rumah tangga, dia baru bercerai. Kasihan sekali dia tidak beruntung dalam hal percintaan.” Gossip lainnya kadang terjadi karena terlalu sibuk bekerja, menyebabkan hubungan dengan masyarakat dan lingkungan jauh dari harmonis. Ia pun sulit dalam berbagi dengan orang lain dan jarang bisa berkontribusi secara langsung dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
Biasanya fenomena seperti ini kita lihat dalam gambaran serial-serial sinetron. Kita melihat beberapa villa atau rumah mewah di perumahan elite yang sangat sepi. Saat berkunjung ke tempat tersebut yang kita jumpai adalah pembantu dan penunggu rumah. Sedangkan majikannya kemana? Mungkin sedang tugas keluar kota atau sedang menginap di kantornya. Kemudian adegan film menampilkan anaknya kekurangan kasih sayang karena kesepian ditinggal kedua orang tuanya. Kesuksesan materi yang ia dapatkan harus dibayar dengan kegagalan rohani dalam kehidupannya. Rumah mewah miliknya hanyalah kebanggaan semu untuk dipamerkan kepada kawan-kawan dan pesaing bisnisnya.
Bukankah miris dan ironis jika kehidupan kita menjadi seperti itu. Saat yang dikejar adalah kesenangan duniawi semata dan melupakan aspek ukhrowi maka yang didapat adalah kefanaan. Sia-sialah usaha keras yang sudah dilakukan, terlebih apabila cara mencari rizkinya tidak benar. Maka kita harus hati-hati jangan sampai terjerumus menghalalkan segala cara demi menutupi gengsi. Bisa jadi Tuhan tidak menghukum di dunia, namun lihatlah tayangan berita di televisi. Cara kotor mencari rizki tercium bangkainya. Banyak contoh kasus, para koruptor yang sebelumnya menikmati rumah mewah, hidup berfoya-foya akhirnya berakhir di penjara. Naudzu billahi min dzalik.
Kesuksesan ataupun kegagalan jika itu terjadi di dunia ini tidak akan kekal. Setelah kita meninggal harta atau pun kemelaratan akan kita tinggal. Maka janganlah berlebihan dalam mengejar kenikmatan hidup di dunia. Mulailah persiapan dan perjuangan menyiapkan bekal untuk kehidupan abadi kelak. Allah menyebutkan dalam firman-Nya surat Ad Duha ayat empat: “Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada permulaan.” Kehidupan dunia adalah permulaan menuju kehidupan kemudian. Oleh karena itu sebaik-baik bekal adalah keimanan dan ketakwaan yang menancap erat dalam hati dan terbukti dengan ucapan dan perbuatan.
Ketika Anda menghadapi kegagalan, maka hadapilah dengan senyuman dan berlapang dada. Sebaliknya jika Anda tengah mendapati kesuksesan dan kenikmatan hidup, maka janganlah lupa untuk berbagi dan mensyukurinya. Ingat hidup di dunia hanya sementara, yang kekal adalah kehidupan di hari kemudian. Jangan sampai menjadi orang yang gagal di dunia juga gagal di akhirat.

KEUTAMAAN HARI ASYURO

#tulisan untuk menyambut Tahun Baru Umat Islam 1436 H.

Keutamaan hari Asy-syura’ banyak disebutkan dalam Atsar.

#Keutamaan untuk para Nabi

Diantaranya; Nabi Adam as, diterima tobatnya pada hari Assyura’. Nabi Adam as. diciptakan dan dimasukkan surga pada hari itu, Arsy diciptakan pada hari Assyura’, juga kursiNya, langit, matahari, bumi, bulan dan bintang-bintang. nabi Ibrohim lahir pada hari itu dan diselamatkan dari api juga pada hari itu. Nabi Musa dan kaumnya diselamatkan dari Fir’aun, dan Fir’aun juga ditenggelamkan pada hari itu. Pada hari itu Nabi Idris diangkat ke langit, hari itu Nabi Nuh mendarat di Judy, hari itu Nabi Sulaiman diberi kekuasaan besar, Nabi Yunus dikeluarkan dari perut ikan, penglihatan Nabi Ya’qub as. pulih, Nabi yusuf dikeluarkan dari sumur dan Nabi Ayyub as. sembuh dari penyakitnya.

#keutamaan pada alam dan kesunahan berpuasa

Pertama kali hujan turun dari langit pada Hari As-syura’. Puasa pada hari Asyura’ lebih terkenal pada semua umat.

Nabi Muhammad SAW. puasa sebelum hijrah. Namun ketika memasuki kota Madinah beliau memperkuat anjurannya berpuasa. Beliau saw bersabda pada akhir umurnya; “kalau aku bisa hidup pada tahun akan datang, sungguh aku akan berpuasa pada hari ke-9 dan ke-10 (bulan Muharram).” Namun beliau keburu hijrah ke Rafiiqil A’la (wafat). pada tahun itu beliau saw belum sempat puasa kecuali tanggal 10-nya.  Namun beliau saw mencintai puasa di hari itu, tanggal 9 bahkan 11 hari, sabdanya; “Berpuasalah kalian sebelum dan sesudahnya hari ini, dan kamu berbeda dengan orang-orang Yahudi, “dimana mereka hanya berpuasa tanggal 10-nya saja.

tulisan ini diambil dari karya Imam Ghhozali, buku Rahasia Ketajaman Mata Hati terbitan TERBIT TERANG Surabaya. halaman 332

Adab Mendengarkan Pembicaraan

Adab Mendengarkan Pembicaraan

Image

Wahai saudaraku, beradablah ketika mendengarkan pembicaraan, janganlah sekali-kali kamu hentikan atau sangkal ucapan seseorang di depan khalayak ramai. Perbuatan itu sangat buruk. Jika ucapan temanmu salah, dan kesalahannya tidak membahayakan, maka maafkanlah. Jangan kamu tunjukkan kesalahannya, tunggulah hingga tinggal kalian berdua. Jika kesalahannya adalah kesalahan yang wajib dikoreksi dihadapan orang banyak agar tidak mempengaruhi pikiran mereka, maka lakukanlah dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang, jangan dengan kasar. Jika teguran itu membuatnya malu, maka itu adalah salahnya sendiri. Dia yang berbuat (maka dia yang harus berani menanggung akibatnya).

Jika kamu seorang pemimpin dan pemuka masyarakat, bicaralah dengan lembut, tenangkanlah nafsumu, jauhilah sikap ujub dan takabbur (sombong). Sebab sikap itu akan memadamkan cahaya dan kilau ilmumu. Jika kamu ingin selalu senang, memperoleh pujian dan pahala, maka jangan debat lawan bicaramu, dan jangan ungkit kesalahan-kesalahan kaum sholihin. Jika ucapanmu disangkal, tetaplah berteguh hati, jangan mengeluh. Jika kamu temui hal-hal yang tidak kamu sukai, maka tanggunglah perasaan itu dan jangan membalas, karena yang demikian adalah sikap orang-orang yang teguh dan suka beriyadhoh; sikap kaum sholihin yang kuat. Betapa banyak ucapan yang jawabannya adalah diam. Seorang penyair berkata:

Tidak semua ucapan perlu jawaban,

Tuk ucapan yang kau benci, diamlah jawabannya

Dengarkanlah suara kaum lemah, tenangkanlah orang-orang yang ketakutan, perhatikanlah ucapan orang-orang yang teraniaya, perlakukanlah mereka semua dengan santun dan ramah. Syukurilah nikmat keamanan dan ketenangan, sebab dalam salah satu kitab yang diturunkan kepada umat-umat terdahulu, Allah SWT berfirman, “Dengarkanlah pengemis sampai ia selesei berbicara, kemudian tolaklah permintaannya dengan lembut. Kepada anak yatim, bersikaplah seperti seorang ayah yang penuh kasih sayang. Dan kepada semua orang yang teraniaya jadilah penolongnya. Niscaya kamu akan menjadi kholifah Allah di bumi-Nya.”

Dalam Taurot juga dikatakan bahwa Allah SWT. Berfirman kepada Bani Isroil, “Wahai penghuni langit, diamlah, Aku akan berbicara. Wahai penghuni bumi, dengarkanlah apa yang hendak Kukatakan. Taatlah kepada-Ku dan jadilah orang yang benar, karena aku adalah Allah Yang Maha Adil, Maha Benar, Maha Lurus dan Amanah. Aku tidak pernah berbuat dzolim. Janganlah kalian menindas orang-orang asing, bukankah kalian telah cukup lama terasing dinegeri Mesir? Janganlah kalian mendzolimi para janda dan anak yatim. Jika kalian  mendzolimi mereka, dan mereka mengadu kepada-Ku, maka sesungguhnya Aku Maha Mendengar jeritan mereka. Aku akan murka, dan kalian akan Kujadikan janda, dan anak-anak kalian akan Kujadikan yatim. Janganlah kalian menerima suap, karena suap akan membutakan pandangan dan menghilangkan keadilan. Jika kalian melihat keledai orang yang membenci kalian terduduk karena kelebihan muatan, maka kalian wajib membantunya menurunkan muatan. Jika wasiat-Ku ini kalian laksanakan, maka Aku akan memusuhi semua yang memusuhi kalian, dan membenci semua yang membenci kalian.”

Jika kamu mendengar seseorang menyampaikan berita yang telah kamu ketahui, janganlah kamu sangkal, karena sikap seperti ini menunjukkan kerendahan nafsu. Namun dengarkanlah apa yang ia ucapkan, seakan-akan kamu belum pernah mendengarnya. Inilah sikap orang yang mulia dan teguh. Apalagi jika yang berbicara adalah seorang yang perlu diistimewakan dihadapan orang banyak. Atau dari seseorang yang sedang mengharapkan sesuatu dari penguasa, maka memotong dan mendebat ucapannya adalah tercela. Alangkah indahnya ucapan penyair berikut:

Bila bicara tak pernah berkata keji,

tidak berdebat dengan yang suka berdebat

Siapa pun bertemu seorang dari mereka ‘kan berkata

“Ku dapati pemimpin mereka

Bak bintang penunjuk jalan.”

Ketahuilah pendengar adalah mitra berbicara. Karena itu, jangan mendengarkan ucapan yang buruk: ghibah(gosip), namimah(mengadu domba), dan pembicaraan lain yang tercela. Tirulah ucapan penyair berikut:

Jagalah pendengaranmu dari ucapan buruk

Sebagaimana kau jaga lisan dari mengucapkannya

Karena ketika mendengarkan perkataan buruk

Hati-hati, Kau adalah kawan pembicaranya

 

∞∞§∞∞

Dalam kitab Memahami Hawa Nafsu: Rahasia Ilmu Kaum Muqorrobin (iidloochu asrori ‘uluumul muqorrobiin) Karya Habib Muhammad bin Abdullah bin Syeikh Alaydrus. Penerjemah Habib Novel Muhammad Alaydrus