MENULIS UNTUK MASA DEPAN

Oleh: Ifa Masluhah

Menulis merupakan aktifitas yang melibatkan fisik dan rohani seseorang untuk menghasilkan sebuah karya. Baik itu karya yang layak dibaca oleh orang lain atau pun karya yang hanya pantas untuk dikonsumsi diri sendiri. Menulis merupakan kegiatan yang sudah umum dilakukan oleh seluruh masyarakat di dunia. Khususnya generasi modern saat ini. Banyak sekali aktivitas sehari-hari yang melibatkan kegiatan menulis. Bukankah dengan hadirnya teknologi ponsel, menjadikan seseorang seperti ketergantungan dengan aktivitas menulis, misalnya menulis sms, menulis status juga aktivitas chat yang difasilitasi media sosial yang semakin berkembang.

Menulis menjadi salah satu kegiatan sehari-hari, khususnya mereka yang hobi dan suka menulis di media sosial, berbalas chat, diskusi di grup atau hanya sekedar obrolan basa-basi. Dari berbagai tulisan tersebut dapat dipilih dan dipilah bahwa ada tulisan yang layak untuk dibukukan atau dipublikasikan, namun ada juga tulisan yang sepertinya sangat sepele. Lalu, apakah aktivitas-aktivitas tersebut menjadi bermanfaat? Tentunya untuk mengetahui bermanfaat atau tidaknya tulisan, itu harus dilihat dari tujuan dan dampak yang dihasilkan dari tulisan tersebut.

Berarti menulis itu bukan hal yang sulit kan? Jawaban ini tentu tergantung pribadi masing-masing. Karena untuk menjadi seorang penulis yang diakui, tidak cukup hanya dengan menyebarkan perasaan galau di facebook atau twitter, dan lain-lain. Namun perlu dilihat apakah aktivitas menulis tersebut menjadi sebuah karya untuk dikonsumsi khalayak umum, atau hanya layak untuk konsumsi pribadi semata. Bahkan mungkin saja, tulisan yang dibuat seharusnya tidak ditulis karena memberikan efek negatif, entah kepada penulisnya sendiri atau kepada pembacanya. Namun tulisan tersebut harus terus dikembangkan dan diasah agar bisa dibukukan, atau dipublikasikan secara online. Tulisan-tulisan yang dipublikasikan dan disebarkan kepada pembaca maka akan mengangkat karya tersebut untuk dinikmati orang lain.

Oleh karena itu kenapa kita tidak mengambil peran, menjadi salah seorang penulis di dunia yang semakin berkembang cepat ini. Tulisan dapat menjadi media bahwa kita pernah ada di dunia ini. Lalu buatlah tulisan yang baik, yang dapat memberi manfaat positif kepada pembacanya. Satu tulisan bisa berdampak besar bagi perubahan dunia. Sekali kita menulis kejelekan dan sudah terpublikasikan, itu akan menjadi catatan kelam yang akan diingat oleh sejarah. Sebaliknya ketika menuliskan kebaikan, maka akan menjadi investasi kebaikan seumur hidup bahkan setelah penulisnya meninggal dunia.

Jadi menulis merupakan aktivitas yang sudah menjadi kebiasaan manusia modern saat ini. Tapi perlu diketahui, bahwa aktivitas menulis benar-benar akan memberikan dampak, baik dampak kecil atau tidak kepada dunia. Menulis merupakan salah satu bukti otentik suatu kegiatan telah dilakukan atau telah terjadi. Ada beberapa kasus yang menyebabkan seseorang masuk penjara, karena tulisan yang melecehkan atau merugikan pihak lain. Hal ini menjadi bukti bahwa tulisan merupakan salah satu bentuk komunikasi yang memiliki implikasi.

Tulisan memberi peranan besar dalam kehidupan manusia. Tulisan yang baik akan berefek positif bagi manusia, dan apalbila tulisan tersebut memberi manfaat yang besar untuk kebaikan manusia, maka sepantasnya tulisan tersebut terus dipelajari dan membawa efek keabadian bagi karya tersebut. Sehingga karya yang memberi dampak positif bagi manusia dan tidak lekang dimakan zaman akan menjadi karya monumental bagi penulisnya.

Namun tulisan negatif, misalnya  tulisan yang lebih banyak menyajikan kemudhorotan, ssebaiknya dihindari. Karena tulisan tersebut dapat merusak mental. Begitu banyak tulisan yang bermuatan hal negatif, baik tersebar di internet atau di buku-buku yang tidak bermanfaat misalnya yang berkonten pornografi, dimana tulisan tersebut dapat membuat pembaca terlena, dan apabila tidak diimbangi dengan iman yang kuat dapat mengantar pembacanya memayangkan, dan parahnya bisa  sampai dipraktekkan dalam kehidupannya. Sehingga bukannya perubahan positif yang didapat, tetapi kerusakan demi kerusakan yang akan terjadi jika tidak disertai dengan pemahaman yang benar.

Melihat betapa besar dampaknya sebuah tulisan, maka perlu dilakukan banyak aktifitas menulis positif untuk memerangi propaganda-propaganda negatif. Contoh dari propaganda negatif misalnya tulisan yang didomplengi aktivis LGBT, pergaulan bebas, pornografi, dan lain sebagainya. Tulisan positif dapat menjadi alat perlawanan bagi aktivitas-aktivitas negatif yang semakin menjamur. Maka seyogyanya Indonesia perlu menggalakkan kegiatan penulisan yang dapat mengubah peradaban ke arah yang lebih positif.

Penulisan yang positif akan memberi manfaat bagi perkembangan dunia literasi Indonesia. Dengan semakin mudahnya mengakses tulisan-tulisan yang positif maka semakin banyak karya anak bangsa untuk bisa diakses oleh masyarakat. Dan secara tidak langsung, tulisan mampu menjadi media komunikasi dalam menyebarkan kebaikan.

Dengan memahami bahwa tulisan kita akan memberi dampak besar kepada pembacanya. Maka gerakan penulisan yang bermanfaat dan bernilai positif harus semakin digencarkan. Pesan yang disampaikan dari Bang Tendi Murti selaku founder Klub Menulis Online dalam kuliah online yang diadakan tanggal 23 Agustus 2016 untuk klub 07, adalah mulailah menulis yang bervisi untuk memberi perubahan peradaban positif, bukan lagi menulis untuk mencetak sejarah kita sendiri. Menulislah, agar karya kita dapat mengubah wajah buruk dunia menjadi wajah yang cerah, penuh semangat dan menyajikan senyum cerah.

Tulisan yang positif tersebut, akan dapat terus kita simpan dan kita sebarkan, tidak ada lagi kata gengsi, takut atau malu-malu. Karena menulis dapat meningkatkan kepercayaan diri bagi penulisnya. Kemudian, tanggapan positif dari pembaca, juga perubahan ke arah positif yang besar baik kepada penulis maupun pembaca akan memberikan kepuasan batin yang tidak akan ternilai harganya.

Malang, 27 Agustus 2016

 

 

PERANAN BKKBN DALAM PENCAPAIAN BONUS DEMOGRAFI

Sebuah laporan karya tulis dari teman. Semoga memberi manfaat kepada pembaca.

Oleh : Joko Ade Nusrsiyono

Sampai saat ini, masalah kependudukan Indonesia masih menjadi fokus perhatian pemerintah. Wilayah Indonesia yang luas dan terpisah dalam bentuk kepulauan juga menjadi tantangan tersendiri dari aspek koordinasi kebijakan. Ditambah dengan jumlah penduduk yang setiap tahun mengalami peningkatan, kondisi Indonesia semakin menghadapi permasalahan yang kompleks. Tetapi, jika ditarik sebuah benang merah, sebenarnya pangkal segala permasalahan Indonesia berasal dari kependudukan.

Data hasil Sensus Penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia telah mencapai 237.641.326 jiwa. Sebesar 49,79 persennya merupakan penduduk yang menempati daerah perkotaan, sementara sisanya, yakni 50,21 persen merupakan penduduk perdesaan. Berdasarkan data resmi yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) juga menyebutkan bahwa kepadatan penduduk per wilayah (kilometer persegi) tahun 2010 mencapai 131,00. Artinya setiap 1 area seluas 1 kilometer persegi dihuni oleh sebanyak 131 penduduk. Angka tersebut ternyata mengalami kenaikan pada tahun 2012 menjadi 135.

10744565_10202072364451198_873144943_nGrafik Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia (diolah), sumber : Statistik Indonesia (BPS) tahun 2014

Berdasarkan data tersebut, jumlah penduduk terlihat mengalami peningkatan yang positif. Tahun 2013 kemarin, penduduk Indonesia telah naik sebesar 1,41 persen dari tahun 2012. Pertumbuhan penduduk memang terus meningkat, tetapi cenderung konstan dengan angka laju pertumbuhan sekitar 1 persen. Inilah buah prestasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bagi Indonesia. Dimulai dari sekitar tahun 1970-an, BKKBN hadir sebagai satu – satunya lembaga negara yang secara konsisten dan intensif menggalakkan program – program penekanan jumlah penduduk di Indonesia atau yang disebut Keluarga Berencana (KB).

10745083_10202072369891334_604863959_nJumlah Wanita atau Ibu Usia Subur Pengguna Alat KB (%) (diolah), sumber : Statistik Indonesia (BPS) tahun 2014

Terbukti hingga tahun 2013, persentase perempuan yang berusia subur secara nasional juga mengalami peningkatan. Jika mengamati data mulai dari tahun 2000 hingga tahun 2013, tercatat pengguna KB semakin banyak. Ini juga merupakan prestasi besar yang ditorehkan oleh BKKBN sebagai lembaga pelopor di bidang pengendalian pertumbuhan penduduk Indonesia. Program KB juga terlihat andal dalam menekan jumlah kelahiran anak yang terjadi di Indonesia dengan indikator angka kelahiran atau Total Fertility Rate (TFR).

10729109_10202072365051213_2107172708_nAngka Kelahiran (Total Fertility Rate, TFR) (diolah), sumber : Statistik Indonesia (BPS) Tahun 2014

Angka kelahiran atau TFR menunjukkan rata – rata anak yang dilahirkan seorang wanita selama masa usia suburnya. Berdasarkan data tercatat TFR Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun tampak stagnan pada angka 2 – 3. Artinya, setiap wanita yang berusia subur di Indonesia rata – rata melahirkan anak sebanyak 2 – 3. Meski pada tahun 2009 hingga 2010 tampak terjadi peningkatan angka TFR, tetapi secara relatif menunjukkan bahwa tingkat kelahiran anak di Indonesia dapat ditekan dengan baik. Inilah hasil dari BKKBN menggalakkan program “Dua Anak, Cukup” selama ini.

Walaupun demikian, BKKBN seyogyanya terus melanjutkan upayanya dalam menekan pertumbuhan penduduk Indonesia. Apalagi, terdeteksi bahwa mulai tahun 2010, Indonesia telah masuk dalam fenomena yang terjadi seabad sekali yang disebut Bonus Demografi (BD). Penduduk memang sama halnya dengan kemiskinan, tak dapat dihadang, tak dapat dikurangi. Yang bisa dilakukan dari sekarang dan untuk seterusnya, khususnya penduduk Indonesia, adalah menekan dan meminimalisir pertumbuhannya. Sebab, jika Indonesia tak memanfaatkan momentum BD ini, maka Indonesia justru akan merugi. Oleh karena itu, Indonesia terutama dalam hal ini dipromotori oleh BKKBN hendaknya memperhatikan kondisi kependudukan baik saat ini maupun pada waktunya BD telah mencapai puncak pengaruhnya terhadap stabilitas Indonesia di tahun 2025 nanti.

Berdasarkan data hasil proyeksi yang dilakukan oleh BPS dengan berpatokan pada kondisi kependudukan hasil SP tahun 2010, dihasilkanlah struktur penduduk dalam bentuk piramida penduduk berikut.

10736131_10202072366051238_607616304_nPiramida Penduduk Indonesia 2010 dan Hasil Proyeksi Piramida Penduduk Hingga 2025 (diolah), sumber : Statistik Indonesia (BPS) Tahun 2014

Piramida penduduk adalah penyajian jumlah penduduk menurut struktur jenis kelamin dan usianya dengan grafik batang horizontal sehingga berbentuk seperti piramida. Kondisi struktur penduduk pada tahun 2010, jumlah penduduk usia produktik atau usia bekerja (15 – 64 tahun) mulai lebih banyak dibandingkan penduduk non-produktif (0 – 14 tahun dan 65 tahun ke atas). Ini merupakan early warning bagi Indonesia bahwa mulai tahun 2010 telah memasuki BD. Selain itu, ini juga menjadi prestasi hilir dari BKKBN yang selama berpuluh – puluh tahun memasyarakatkan dan mensosialisasikan program KB untuk menekan jumlah kelahiran. Ketika jumlah kelahiran anak ditekan maka dapat mempengaruhi pertumbuhan dan struktur penduduk di masa berikutnya. Jika memperhatikan struktur penduduk tahun 2013 kemarin, proporsi golongan penduduk usia produktif semakin bertambah dibandingkan penduduk usia non-produktif. Pada hasil proyeksi struktur penduduk pada piramida penduduk tahun 2014, terlihat proporsi penduduk menurut jenis kelamin khususnya usia produktif tampak seimbang. Sementara itu, pertumbuhan penduduk usia non-produktif tendensi stagnan, tak berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya. Pada hasil proyeksi penduduk di tahun 2015 nanti, dapat dilihat bahwa penduduk usia 0 – 14 tahun mulai berkurang dan dari segi jenis kelamin tampak seimbang, hal ini bisa terjadi jika BKKBN terus melakukan sosialisasi program KB-nya, tidak hanya melalui media cetak atau media maya, tetapi BKKBN hendaknya juga bekerjasama dengan televisi swasta agar sosialisasi program tersebut dapat tersebar secara luas dan merata. Kondisi penduduk kelompok usia 0 – 14 tahun yang menurun bukan berarti angka kelahiran dapat ditekan, sebab bisa saja angka tersebut turun karena besarnya angka kematian anak (termasuk bayi).

Pada tahun 2020 hasil proyeksi penduduk juga memperlihatkan jumlah penduduk usia produktif masih lebih banyak daripada penduduk usia non-produktif. meskipun jumlah penduduk usia 65 ke atas mulai bertambah, tetapi pada tahun inilah terjadi penurunan jumlah penduduk usia 0 – 14 tahun. Hal ini pun jika pemerintah bersama BKKBN mau bekerja keras dalam pembinaan dan pengkoordinasian program KB secara berkelanjutan. Dan puncaknya adalah di tahun 2025, dimana proporsi pendududuk usia produktif lebih dari 55 persen lebih dari jumlah penduduk non-produktif dan sekaligus menunjukkan bahwa rasio ketergantungan Indonesia akan mengecil. Pada tahun 2010, angka ketergantungan Indonesia berapa pada kisaran angka 51,31 persen yang berarti setiap 100 penduduk usia produktif hanya menanggung beban ekonomi penduduk usia non-produktif sebanyak 51 hingga 52 penduduk. Hasil proyeksi menyebutkan bahwa pada tahun 2013, angka ketergantungan tersebut mulai turun menjadi 45 persen, di tahun 2015 turun lagi menjadi 44,8 persen, dan pada tahun 2015 diperkirakan turun tipis menjadi 44,7 persen dan mencapai puncak penurunan pada tahun 2025 diperkirakan angka ketergantungan Indonesia berada pada posisi 45,5 persen. Ini merupakan sinyal positif bagi Indonesia sebab naiknya proporsi penduduk usia produktif secara langsung berdampak pada geraknya roda perekonomian dan pembangunan. Secara empiris juga terbukti dari hasil penelitian Nurul dkk. (2012), bahwa angka ketergantungan berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Artinya, semakin kecil angka ketergantungan, maka pertumbuhan ekonomi nasional akan semakin meningkat.

Hanya saja, beberapa tantangan besar tentunya bakal menjadi barier dalam menyongsong BD ini, diantaranya :

(1) Meskipun Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia sudah menurun, tetapi penurunannya terlihat lambat akibat daya serap industri di Indonesia yang kecil terhadap stok angkatan kerja. Padahal di dalamnya kemungkinan besar terdapat penduduk usia produktif dalam jumlah besar. Industri di Indonesia lebih condong berorientasi padat modal daripaa padat karya, terbukti bahwa hingga tahun 2013, persentase pengangguran terbuka (TPT) masih tergolong besar, apalagi jika dilihat menurut pendidikan yang berhasil dicapai.

1503685_10202072366451248_2040872129_nTingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Lulusan Terakhir (diolah), sumber : Statistik Indonesia (BPS) Tahun 2014

Tampaknya lulusan yang masih besar menyumbang angka TPT adalah lulusan SD, SMP, SMA, dan SMAK. Hal ini terjadi karena orientasi industri yang tidak tepat, atau memang lapangan usaha yang tidak sesuai dengan sejumlah lulusan tersebut sehingga lebih baik untuk menunggu hingga mendapatkan pekerjaan atau lapangan usaha yang sesuai dengan keahlian dan minatnya.

(2) Pertumbuhan ekonomi positif tetapi justru kurang efektif menyerap tenaga kerja yang ada. Hal ini disebabkan pola investasi di Indonesia masih tersentral di pulau Jawa, sementara di luar Jawa masih sangat minim.

967848_10202072366651253_976680998_nRasio Investasi PMDN terhadap Total Investasi (diolah), sumber :Statistik Indonesia (BPS) Tahun 2014

Data meyebutkan bahwa rasio Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) memang terealisasi besar dan dari tahun ke tahun positif, tetapi kembali lagi, proyek investasi tersebut lebih besar di pulau Jawa. Akibatnya, selain pembangunan di Indonesia tampak timpang dan kurang menjamah kawasan tertinggal yang berhilir pada angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang rendah, juga kurangnya distribusi penduduk ke seluruh wilayah Indonesia untuk perbaikan infrastruktur pada kawasan kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya.

(3) Kurangnya kerjasama antara BKKBN dengan pertelevisian nasional dan swasta. Selama ini, iklan mengenai program KB sangat kurang gencar di televisi swasta, padahal konsumen televisi swasta jauh lebih besar dibandingkan televisi negeri atau pemerintah. Oleh karena itu, tidak kah sebaiknya BKKBN menjalin kerjasama dengan televisi – televisi tersebut agar mampu mensosialisasikan programnya lebih intensif lagi.

Bonus Demografi, tanpa adanya lembaga BKKBN yang secara berkala dan berkelanjutan mensosialisasikan program KB dan penggunaan alat instrumen KB, tentu Indonesia bakal sulit mencapainya. Ini semua adalah bentuk prestasi emas BKKBN yang patut didukung oleh seluruh lapisan penduduk Indonesia agar pencapaian Indonesia masuk dalam zona BD tak berujung sia-sia atau bahkan merugikan.