Curcol Abstrak

Lagi menambah isi konten tulisan yang pernah di post. Hmm…  Kayaknya isi tulisanku minim sekali ya.  Andai aku bisa nulis panjang,  berbobot,  nggak gampang membuat orang lain bosan,  pasti senang. 

Apa yang dilakukan penulis-penulis produktif yang mampu menuliskan cerita hingga Selesai ya. Apa mungkin akibat aku lebih memilih aktivitas lain dan tak menyisihkan waktu yang tepat untukku menuangkan cerita dalam bentuk tulisan. 

Membiasakan diri rajin menulis di jam dan waktu yang sama secara rutin setiap hari, alangkah senangnya. 

Belum apa-apa mata sudah berair,  mulut menguap.  Hmm,  aku ini tukang tidur apa ya… Kog nggak bisa begadang untuk menulis.  Apa aku tak punya deadline jelas? Tulisan-tulisan masih mengambang nggak selesai.  

Astaghfirulloh. 

Pagi ini,  coba menambahi sisi abstrak dari tulisan abstrak.  Bagaimana rasa kentang. Kentang yang sudah dikupas tapi belum dimasak. 

Haha.  Gak jelas men…. 

Terus manusia itu lebih baik hidup di dunia ini sendiri atau bersama orang lain? 

Advertisements

Sms Minta Maaf

Ini adalah lebaran pertamaku di luar kota.  Ada sedih merayap menggerogoti rasa bahagia.  Tapi cita-cita besar menjadi salah satu pelipur lara.  

Sebagai satu-satunya anak gadis dalam keluarga,  sebenarnya ada rasa berat meninggalkan rumah.  Tapi,  karena  sudah lulus ujian masuk sastra Indonesia UI, aku memilih untuk tetap berangkat. Syukurlah bapak dan ibu memberi ijin, meski dengan berat hati.

Menjalani hari-hari yang begitu menegangkan,  tanpa sanak keluarga dan kenalan.  Maklum aku adalah anak udik yang terjun ke kota besar.

Di sini aku ditempa menjadi pribadi tangguh. Belajar mandiri, meski kadang sesak menghinggapi. Ah ini sudah keputusanku. Ini ujian yang harus kulewati dalam hidup. 

“Bunda,  maaf aku belum bisa pulang.” bunyi sms yang kukirimkan ke rumah. Sangat singkat.

Lalu aku menangis sesenggukan. 
—fiksilebaran2017—

Bagaimana Akhir Dunia? 

Apa yang terjadi dengan dunia ini 1000 tahun lagi? 

Ada pertanyaan yang melintasi kepala. Masihkah bumi ini berputar mengelilingi matahari, atau?  Sudah musnah…  Karena kiamat telah meratakannya dan menghamparkannya menjadi bagian dari padang makhsyar. 

3017 seribu tahun lagi. Masihkah ada umat manusia anak cucu Nabi Adam hidup dan menjadi khalifah?  Ataukah telah hancur lebur menuju alam lain alam terakhir dari kehidupan?

Tapi, manusia tak akan pernah tahu kapan kiamat itu terjadi.  Sebagai umat yang meyakini Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir dan Al Qur”an sebagai salah satu mukjizat terbesarnya,  kami diwajibkan mengimaninya. 

Setiap orang tak ada yang tahu kapan pastinya kiamat terjadi. Karena itu adalah salah satu kabar gaib dari Allah selain surga dan neraka. 

Tanda-tanda kiamat itu ada banyak sekali. Tapi perlu referensi untuk menulisnya. Jika ada kesempatan insyaAlloh akan ditulis

Terima kasih,  yang sudah berkenan baca ^_^

SEPATU

Ingat sepatu rieker yang dibelikan bapak di pasar loak, meski butut mengantarku menjadi peserta lomba mata pelajaran IPS. Alhamdulillah merasakan jadi peserta semifinal 🙂

Tahun dua ribuan saat masih kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah ^_^ waktu itu,  bisa membeli sepatu rieker yang solnya dari karet pentil dan bahan lapisan penutupnya kain hitam yang kuat dengan model tali amat menyenangkan. Sangat membahagiakanku.  

Sepatu yang lama sudah benar-benar rusak.  Sedang sepatu mbakku nggak mungkin tak pinjam. Selain terlalu besar lapisan bawahnya juga penuh dengan tambalan. 

Sedang sepatu rieker yang dibelikan bapak di pasar loak,  ukurannya masih terlalu besar untuk ukuran kakiku yang kecil. Tanpa dipaksa, aku cukup mengakalinya dengan menambah gulungan kaoskaki atau kain secukupnya. Alhamdulillah, maka nikmat mana lagi yang aku dustakan. 

Lalu, di masa remaja saat aku sudah SMA, lagi-lagi aku bermasalah dengan sepatu. Mungkin sepatu memang bukan prioritas utama di rumah.  Jadi sepatu butut yang kumiliki sementara disimpan dulu. 

Sahabatku Tri, dengan begitu baiknya, meminjamkan sepatu hitamnya,  yang sangat bagus untukku.  Dan aku pun kembali menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti lomba.  Alhamdulillah.  🙂
 

Gerimis 1

​Malam ini gerimis turun di sekitar rumahku… Apakah di kotamu juga sama? Hingga anganku terbang menanti sedikit kabar darimu.

 

Kuingat percakapan lalu-lalu, saat kau simpulkan bahwa hujan menunjukkan keadaan hatiku yang tengah sedih. Aku ingin menyangkalnya. Karena bagiku hujan adalah pelipur duka, kesempatan bagi hamba untuk meminta lebih.

 
Tapi tak bisa pula aku menolak kenyataan, bahwa ada sedikit goresan. goresan yang akan menguatkan rasa yang mulai tumbuh. meski ada perih setitik, tapi itu hanya sedikit tanya… “Baik-baikkah di sana?”
Lalu seulas senyum yang sempat kurekam dalam memori hadir memberi kekuatan tuk kembali menenangkan diri. 🙂
20-07-2016

Sehari sebelum kau putuskan 😀

Sungguhkah Rindu? -#azh

​Sungguhkah merindukanmu 

Aku mempertanyakan perihal rasa menggelisahkan kalbu

Ketika detik-detak waktu terus menggulirkanmu 

Diantara garis-garis yang membujur itu

Lewati titik-titik kelabu

Aku kau telah berjalan bersampingan sekian waktu

Tpi masa yang tak jua menghapus kenangan lalu

Ah! ini cinta atau nafsu

Gelora di dada ingin miliki seluruhmu

Tapi bukankah itu keegoisan semu

Dan jiwa pun tak mampu

Hadapi gelombang sedahsyat itu

Biarlah saat ini diri huni rongga pilu

Tempatku mengingat gerutu

Bahwa janji pun kadang palsu

Karena kita tak peroleh restu

Malang, 02 September 2016

#azh